Search This Blog

Kenangan Kabah @Riung Bandung



Tanggal 11 Februari menuju 12 Februari 2011…
“Apa Persis menganggap kamu kader Persis?” Teriaknya penuh penekanan dengan mimik optimis bahwa kali ini saya akan menyerah untuk menjawab.
Kok rasanya saya lagi ditanya, “apa orangtua kamu menganggap kamu anak mereka?Nyeredet hate kitu. Jangan-jangan orangtua saya mengasuh saya hanya karena kagok dikasih saya sebagai anak mereka. Malam sebelumnya saya memang memakai kalimat, ‘saya merasa tersesat di Persis, karena kecintaan saya pada ilmu matematika dan IPA dileburkan oleh Persis dengan memberi tinta merah di nilai Fisika’, tapi saya melanjutkannya dengan, ‘saya tersesat di tempat yang tepat.’
Namun ketika ditanya, “apa kamu merasa sebagai kader Persis?” Yang saya artikan, “apa kamu merasa kalau kamu adalah anak orangtua kamu?” Ya saya MERASA, tidak ada itu dalam rumus (?) saya kata kagok jadi anak mereka. Dan gara-gara hanya saya sendiri yang menjawab “merasaaaaaa…” dengan suara serak karena batuk yang menyita suara, maka sayalah korban pertama pertempuran berpeluh malam hari itu. Hingga keluarlah kegelisahan-kegelisahan  yang terlalu rapuh untuk dipertanyakan dengan kalimat penanya (kalo kalimat penyeru berarti teriak, eh jadi yang waktu itu nanya teriak-teriak ke saya pake kalimat penanya apa penyeru ya).
Setelah pergolakan yang kata Fihris ‘tidak memuaskan’ dan dibalas dengan ‘saya bukan alat pemuas kamu’ itu (haa kocak). Saya masih duduk manis di belakang jajaran leter U ketika tiba-tiba jaket saya kesetrum, lha? Maksud saya, hape di jaket saya bergetar sehingga membuat saya sedikit kejang-kejang (ngarang). Maka, saya intiplah hape saya dan tertera nama rekan Kominfo. Nah lho, masa mau saya rijek? Well, saya melirik panitia di belakang untuk meminta ijin keluar (Namanya Dinan kalau tidak salah ketik akte lahir :D) dan ngacir untuk menerima telepon.
Agak lama saya ditelpon merangkap ngerumpi yang intinya  kasak-kusuk Radep Kominfo besok. Ah, saya langsung gelisah. Besok kan masih ada materi Kabah, lalu bagaimana dengan Radep? Dua-duanya ga asik sih, yang satu materi yang satu rapat hahaha. Lurus amat sih hidup lo, Sar.
Ketika kembali ke ruangan ternyata materi yang disampaikan Kang Roni sudah limit alias mau ditutup. Wakakaa, gokil nih peserta kader yang terhormat. Jadinya saya hanya nimbrung di bagian tanya jawab saja yang murudul saya tanyakan dan diakhiri dengan persiapan sidang.
Kucluk, kucluk, kucluk… tanpa rasa bersalah mereka menggenapkan suara untuk memilih presidium sidang. Kalau saya tidak salah ingat, hanya saya sendiri saja yang tidak memilih Si Sarah itu. Jadi bagaimana? Mau dikeroyok massa atau merajuk menolak ke depan seperti bocah pincang? Dan tashiru pun memanggil, ayunkan langkah kaki… (hha maksa)
Deredeeeddddd… durutdut dan sebagainya. Sempurnalah malam itu saya diberi perwujudan nyata yang kesekian kalinya bahwa manusia adalah makhluk yang mudah sekali menciptakan masalah tanpa solusi. Ada perseteruan antara sesama peserta peninjau mengenai pemakaian kata ‘dan’. Ingin rasanya saya mengatakan, ‘masih ada agenda besar selain ini. kalau hal sekecil ini saja tidak bisa diselesaikan dengan satu pemikiran yang SIGAP (promo kabinet), bagaimana kita bisa menjadi kader dakwah dengan hal yang besar?’ Tapi saya disana sebagai pimpinan sidang bukan sebagai Mamah Dedeh, ditambah cuaca malam yang sudah menyedot sumbu hipotalamus berhenti bereaksi (halah), apalagi bersitatap dengan petinggi intelek lainnya membuat mulut saya basi kata.
Pemilihan Ketua Angkatan katanya. Apalah namanya itu, tapi saya tidak suka. Saya mendadak suka panas dingin teu puguh, pokonya tidak nyaman. Kalau mengutip kata Kang Nana mah, “tidak bahagia sebagai penyebab kelakuan menyimpang.”
Eh, ngomong-ngomong tentang kutip mengutip, saya ditegur Akang Sejarawan gara-gara senang mengutip kata-kata orang ketika berbicara. Bodor!  Emang kenapa kalau saya senang mengutip? Saya mengutip untuk berlindung, katanya, hadu saya kan bukan satgas. Kalau saya punya pemikiran yang sama dengan perkataan orang lain bagaimana? Apa saya harus mengaku-ngaku itu pemikiran saya? Waaaa, ga beres ini. Banyak yang memberikan materi dengan mengutip sana mengutip sini mempersempit orisinalitas opini termasuk perkataan, kalian sudah makan uang rakyat. Hha, saya sudah mendengar itu dimana-mana, dia hanya mengikuti pemikiran orang lain. Saya mengutip untuk cari aman, katanya. Saya mengutip untuk cari uang (teu nyambung). Mengutip itu kerjaan orang-orang sejarawan dan juga ahli hadis. Pasti mereka tersinggung kalau mereka dibilang mengutip untuk cari aman karena tidak mau terlihat bodoh. Ah, orang yang emosinya lagi dimainin emang suka aneh-aneh ya omongannya. Hih, sieun.
Oke, jangan terlena dengan dongeng tak indah itu.
Kalian tahu apa kelebihan saya sehingga banyak yang keliru mempercayai saya?

PUBLICK SPEAKING.

Kita lihat pemimpin sekarang. Obama dan SBY. Siapa yang tidak memuji kepiawaian mereka berdua dalam berbicara? Mereka selalu berbicara dengan penuh kharismatik dan diksi yang tepat sehingga membuat orang-orang menaruh kepercayaan dan harapan pada jari jemari mereka yang terangkat.
Tapi saya senang berbicara di depan umum bukan agar orang-orang menaruh harapan pada saya. Ketika diniyyah, saya dijebak menjadi bocah pertama yang berceramah saat haflah imtihan di depan orangtua santri dan juga dijebak menjadi UG pertama yang khitobah di depan RG-UG ketika Tajhiziyyah. Dan jebakan itu saya namakan ‘menjebak agar menjadi bibit sukses’. Sekarang saya baru menyadari hal itu, kenapa harus saya? Kenapa waktu itu teman-teman saya hanya diam saja? Kalau saya tahu dari dulu bahwa berbicara di depan umum bisa membuat seseorang dipilih menjadi ketua, emmmh tadinya saya mau menulis ’maka saya tidak akan melatih diri untuk berbicara di depan umum’ tapi ga jadi ah,saya tetap suka publick speaking apapun resikonya.
Sama seperti yang dikatakan Hitler, sang diplomat ulung yang bisa mempengaruhi dunia hanya dengan kata-katanya saja, dia mengatakan, ‘Dunia tidak akan tunduk kepada mereka yang hanya menulis. Dunia tunduk pada mereka yang berbicara.’ Tapi, tapi, dan tapi, saya ingin menjadi penulis ulung sekaligus pembicara handal. Hanya itu saja, tidak ada bonus.
Dan karena saya cerdas (hahaha gareleh), saya manfaatkan keahlian publick speacking saya untuk menjatuhkan rezim suara terbanyak itu dengan mengkampanyekan kerugian yang akan didapat kalau Si Cicak Heboh ini jadi ketua angkatan dan merekomendasikan Mami Dolly. Alhasil, dua suara yang awalnya hanya terdiri dari suara saya dan seseorang yang terbujuk dengan orasi saya untuk memilihnya berubah drastis menjadi suara terbanyak. Wuiiiih, betapa kata-kata adalah kekuatan. Untung saya diselamatkan oleh adegan visi misi :D.
Ayo teman-teman. Saya tahu kok kalian tidak akan mengandalkan saya saja. Saya tidak bisa memberikan harapan lebih kepada Himi 2011, jadi lilin harapan itu ada di tangan kalian. Ga ada loe ga rame, ga ada gue harus lebih rame :D.
Panjang amat ya curhatannya. Biarin lah, orang ini akun fesbuk saya.
Oh ya, ngomong-ngomong masalah curhat, ketika sambutan ketua angkatan, Ustad Usman Ciwidey curhatnya bagus sekali ya. Terus yang meledeki saya habis-habisan di depan Kang Irwan kalau saya curhat colongan siapa ya? Ah sepertinya saya salah orang. Nanti saya ingat-ingat lagi sajalah.
Meluncur ke Radep… 13 Februari 2011
Singkat cerita di Radep rancangan proker itu kita sudah sampai pada pembahasan mengenai Interval21 (bagi mahasiswa Unpad yang tidak tahu interval21. Hiks, hiks, saya turut berduka cita atas keapatisan kalian). Sudah pasti yang menjadi penasehat adalah Kang Sayyidi, penanggung jawab Teh Fay, pemimpin umum Kang Enggia, dan siapa yang akan jadi pemimpin redaksi? Pilihannya hanya saya, Icha, Eri, atau Teh Nida.
Mundur ke Radep sebelumnya, ketika dengan polosnya awak kominfo 2010 mengaku tidak pernah melihat wujud Interval21 dan eng ing eng dari tas bolang kumel saya meloncat (?) Si Interval21 itu. Jadi ketika Radep pembahasan rancangan proker itu….
“Eh bagaimana Kang Engggia? Boleh tidak?”
Yang ditanya hanya nyengir dan bilang, “Iya lah, orang yang suka bawa-bawa interval21 itu Sarah.”
Lha, masa karena itu.
Tapi ini ranah saya. Menjadi pemimpin redaksi setidaknya bukan suatu kepemimpinan yang akan membuat saya tidak nyaman. Saya bergairah untuk menyambut tantangan ini.
Tapi tunggu… Jika semalam saya menolak untuk menjadi ketua angkatan yang katanya tugasnya sepele itu (kalah sama pemulung dong ya yang tugasnya ga sepele), lalu kenapa saya ayo-ayo saja jadi pimred? Karena ini bukan masalah jabatan menjadi apa atau sebagai apa dalam organisasi apa yang diisi pada CV. Ini masalah loyalitas kita terhadap apa yang ingin kita rangkul, sehingga bodo amat jika saya hanya di bagian redaksi sepanjang masa (ini bahasanya Teh Fay) saya hanya ingin menulis dan langkah saya mentok di pimred. Saya sangat khawatir timbul opini miring (warung doyong kali), bahwa saya menolak menjadi ketua angkatan karena saya tidak dapat apa-apa di himi lalu memilih menyibukan diri jadi pimred. Halah, nangis cakcak abi mah mun aya nu bilang kitu.
Jangan pernah membanding-bandingkan kecintaan saya pada Persis dengan loyalitas saya pada Kominfo. Saya bukan Romeo yang tergiur dengan pengorbanan cinta, apa yang bisa saya berikan maka itulah cinta saya.
Wallahu a’lam bishowab.

P.S: Semuanya hanya tulisan spontan dari jasad yang lagi batuk, kata maaf sepertinya ga akan cukup kalau ada yang tersinggung. Jadi, saya mohon jangan tersinggung karena saya juga ga pernah tersinggung jadi bahan ledekan kalian. Kalau ada yang dendam sama saya bisa datang langsung kepada saya dan mentraktir saya mie ayam hahaha :D.

Jatinangor, 14 Februari 2011

0 komentar:



Post a Comment

Jika tidak memiliki akun di google, wordpress, dan yang lainnya, bisa menggunakan anonymous.