Search This Blog

Galaunya Malam Kemarin [Panelis Gagu :P]


Panelis? Apaan sih, lha saya juga kaga tahu. Jangankan panelis, devisa dan komoditas aja saya ga tahu! Saya tahunya Devitha dan Komodo (temennya Cicak di Kampus), hahahaa.
Ceritanya ... Inalillahi, saya lupa ceritanya gimana. Tadinya saya mau nyeritain pertemuan saya dengan T'Dika, tapi saya lupa ketemunya dimana .... Zzzzzzth
Ya udah lanjut aja dah, tiba-tiba saya ditodong jadi panelis. Hm, acara apaan??!



Alkisah nih ya, saya lagi asik ngelamun di kursi belakang setelah mendengar Bu Emma cuap-cuap mengenai Patofisiologi Si Trauma Thoraks. Setelah selesai berorasi, akhirnya yang nyangkut di otak saya yang minim ini hanyalah Paradoksal Iga dan beruntung ternyata soal essay pertama adalah mengenai Paradoksal Iga.
Nah loh ngomongin apa nih? Muter2 aja kaya gasing, oke balik lagi ke Panelis. Jadi ada dua ukhti-ukhti (mutsanna apa jamak tuh? ah ga usah dibahas lah), mereka berdua mempromosikan acara Keputrian DKM Unpad yang bertemakan TKW-ku Sayang TKW-ku malang; TKW Antara Pahlawan Devisa dan Korban Komoditas.

Umh, menarik. Tapi saya tidak tertarik, jadi gimana dong?
Hanna udah lirik-lirik ke arah saya yang ngeliatin pamflet dengan hambar, "Ikutan yuk, Sar!"
Aku mengerutkan kening, "Ngeri ah."
"Lha kenapa?"
"Kalau udah ikutan acara ini tiba2 aku berambisi buat berubah jadi cowok aja gimana??"
Hah??
Ya nggak lah, saya menolak mengikuti acara itu karena memang hari Sabtu ini saya harus ke Kalipah Apo untuk rapat acara Kibar (Kilas Balik Perjuangan Mahasiswa). Iya lah harus ikut, udah dua kali bolos rapat tuh gila aja kalau mau terus absen, lama-lama saya dicap juga sebagai Sarah Si Panitiaantirapat. Saya juga sudah ambil ancang-ancang untuk ijin acara internal BEM Kema yang diadain SDMK sabtu ini, acaranya masak-masak gitu deeh seru-seruan, tapi sesuai dengan pratinjau Raker maka awak Kominfo pasti pada ngirit banget datangnya.

Pada akhirnya, sepertinya besok saya tidak ikut lagi rapat panitia Kibar dan tidak pula ikut acaranya SDMK. Why??

"Sar, Sabtu ini ada acara SDMK kan di BEM?" Tanya T'Dika di pertigaan Jl.Sayang (hha sekarang aku ingat tempatnya dimana :D).

Saya langsung mengangkat alisku, berpikir keras apa jangan-jangan T'Dika tahu kalau saya hendak ijin buat ke Kalipah Apo.
"Itu yang acara Sigap Heart to Heart." Tambahnya meyakinkan.
Aku sih sebenarnya sudah yakin, yakin ga hadir gitu, Tapi ...
"Kamu ijin aja ya ke Fae buat ga ikut ... (hhi T'Dika tahu aja saya mau ijin) ... jadi kamu nambahin buat jadi panelis di acara DKM Unpad ... (what??) ... soalnya mereka minta 10 orang dari BEM dan sekarang baru ada 3 orang ... (aku diitung tujuh aja gitu :D) ... sambil liputan juga kan Sar ... (gubrak, asik nih dikejar deadline lagi)."

Saya tersenyum dengan penuh keraguan, "Panelis, Teh?"
"Iya, kamu pasti bisa lah ..." T'Dika menepuk bahuku, "Kan seneng baca, udah punya vokal buat ngomong nanti."
Jiaaah, vokal grup ala kaskus ujian aku punya Teh, heheheee.

So??
Seru kali ya jadi Panelis, meski saya belum pernah jadi panelis dan ga tahu kerjaan panelis tuh ngapain aja. Hha, harus jungkir balik Jatinangor-DU aja kali ya kalau nanti disana tegang. Yang penting malam ini saya harus baca semua artikel mengenai TKW dan petuah-petuah dari T'Kantry yang sangat membabi hutan :D.
Alhamdulillahnya, kakakku tercinta adalah eks Ketua Keputrian BKI jadi bejibun di rak buku itu buku mengenai perempuan. Tapi ga mungkin saya baca cuma dalam semalam juga ya.

Perempuan? Wanita?
Umh, saya tidak terlalu tahu mengenai ke-TKW-an, tapi untuk masalah feminisme? Jreng ... jreng ... jreng ... rasanya akhir2 ini saya banyak sekali mengikuti kajian yang bertema feminisme. Kalau di Keputrian QA udah pasti lah ya kajiannya about cewek semua, lalu di FLP Bandung ketika pertama kali ya saya mengikutinya maka yang dibahas adalah buku 'Perempuan di Titik Nol', beuh tuh novel pengen saya telen bulet2 saking mengobrak-abrik pemikiran kritis mengenai perempuan. Beberapa bekal yang saya ambil dari kajian FLP Bandung itu.


"Tubuh yang paling murah adalah tubuh seorang istri, maka saya lebih memilih untuk menjadi seorang pelacur yang cerdas daripada menjadi seorang istri yang dibodohi."

Jijik banget kan bacanya, saya memang tipe manusia yang labil, ga boleh dicekokin doktrin jika tanpa filter. Sepulangnya dari kajian FLP Bandung saya membekali kedunguan saya ini dengan sebuah kalimat bodoh.


"Ketika seorang suami keluar rumah, maka dia berhak melirik wanita lain untuk dijadikan istri. Dan ketika hal itu terjadi, seorang istri yang menantinya di rumah berkewajiban menjaga dirinya dari lirikan laki-laki lain."
Nah loh? Saya tidak menuntut masalah poligami, semua orang juga tahu saya ini penganut pro poligami. Kita juga bukan sedang membicarakan masalah hak dan kewajiban, juga bukan mengkritisi hukum islam.
Jadi apa? Itu hanya celotehan ringan saja yang secara sadar saya terima kenyataannya.

Lain lagi di kajian PP Himi Persis yang berlangsung di Kalipah Apo itu. Apa cobaaaa ... pematerinya kabur sebelum ada sesi tanya jawab, padahal aula tengah memanas dengan doktrin-doktrin beliau yang mengganas. Beliau adalah tokoh feminisme lulusan London yang sudah S3. Widiiih, saya saja masuk kuliah S1 harus dibujuk keluarga dulu.

Beliau sangat menyayangakn pemikiran kami yang lurus-lurus saja mengenai disparitas antara kaum Adam dan kaum Hawa. Bahkan beliau mengoceh tentang tafsir dari Kitab Ibnu Katsir saat membahas mengenai penciptaan Hawa.
"Kalian selalu menafsirkan ayat al-quran dari Ibnu Katsir kan?"
Kami memperhatikan pola bicaranya yang penuh penekanan.

"Ibnu Katsir itu siapa? Dia manusia? Jadi dia juga bisa saja salah kan? Kalian harus bisa mengkritisi sendiri isi Ibnu Katsir itu?" Celotehnya.
Nah loh, saya juga manusia yang bisa salah kan, dan dia juga manusia yang bisa salah. Kalau semua mengacu pada asumsi bahwa semua manusia bisa salah, maka ilmu siapa yang mau diambil? Toh Ibnu Katsir juga dpercaya tafsirannya dengan beberapa pertimbangan dari ulama-ulama ter-apdet. Apa ulama itu juga salah? Kalau semuanya salah, masa kamu doang yang bener? Daftar jadi malaikat sejak kapan?

Hhe sepertinya tulisan saya sudah menyimpang dari judul, sori dori kogoro mori nih kelewat semangat uyz.
Huft, baiklah.
Untuk besok, saya harus siap jadi panelis. Tanpa wajah pucat, jadi ga boleh begadang. Dan apa coba?? Besok ada Ibu Mentri Pemberdayaan Wanita dan ... apa kelanjutannya? hehe, yee salah, harusnya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (baru baca di gugel :P). Oh iya, selain saya dan rengrengan BEM Kema, ada juga panelis dari organ lain semisal BKLDK Jabar, HMI, dan  MHTI. Ya udah lah ya, semoga kita bekerja sama dengan baik. Yang ga kebayang itu kalau sampai media pada datang kayak pas acara Logika KPK. Huft, bisa keringet ijo keluar.

Hajjjuuuh ... Jinggaaaa, Give Me Spirit!!
Where are U?!


0 komentar:



Post a Comment

Jika tidak memiliki akun di google, wordpress, dan yang lainnya, bisa menggunakan anonymous.