Search This Blog

Linglung Ongkos @.@

Sebenarnya tragedi ini terjadi pada tanggal 17 April ketika saya selesai menghabiskan waktu dengan kedua temanku di alun2 Bandung.

Ceritanya begini … aku turun di Leuwi Panjang setelah menumpangi angkot Cipatik-Tegal Lega bersama Salma. Disana aku berharap menemukan bis menuju Tasik namun nihil. Bis Tasik itu irit sekali terlihat di LP (baca: Leuwi Panjang). Ya sudah, akhirnya aku kembali menjadi Gadis Elp Sejati seperti semasa SMP.

Setiap Manusia Punya Kemenangan Sendiri



Galaunya Malam Kemarin [Panelis Gagu :P]


Panelis? Apaan sih, lha saya juga kaga tahu. Jangankan panelis, devisa dan komoditas aja saya ga tahu! Saya tahunya Devitha dan Komodo (temennya Cicak di Kampus), hahahaa.
Ceritanya ... Inalillahi, saya lupa ceritanya gimana. Tadinya saya mau nyeritain pertemuan saya dengan T'Dika, tapi saya lupa ketemunya dimana .... Zzzzzzth
Ya udah lanjut aja dah, tiba-tiba saya ditodong jadi panelis. Hm, acara apaan??!

Tragedi Ujian Siang Tadi


Memasuki UTS, aku diminta untuk mempublikasikan ucapan selamat UTS. Hwidih, UTS aja harus selamat kan. Parahnya, kemalalasan aku sedang memanja ria. Jadi BEM Kema ketinggalan dalam hal ucap mengucap keselamatan itu. Kalah dengan ucapan teman-teman Padjadjaran Intellectual Research dan BPM Kema yang berbunyi;

Selamat Ber-UTS Ria!!!
Yuk terus belajar dan berdoa di Ujian Tengah Semester ini..!!
UTS..?? Ujian Tak Susah
UTS..?? Untuk Terus Senyum
UTS..?? Usaha Tenang dan Sukses
UTS..?? Ujian Tetap Semangat!!
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Jangan menyerah!!! Menyerah berarti menunda masa senang di masa datang (Imam Syafii).

Pemakaian Ejaan yang Disempurnakan dalam Sastra Populer Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Berbahasa Penulis Muda




_Seni Pertunjukan_


Jangan Mau Jadi ‘Mujahid Cicak’


(Tulisan ini dibuat saat mengikuti Kaderisasi Hima/Himi Persis di Riung Bandung)
Sarah Nurul Khotimah Fkep Unpad ‘10

            Persis itu kaku. Begitu opini yang selalu saya dapat dari selentingan obrolan, sahabat, dan masyarakat. Jika benar begitu, sesuai dengan tipe kepribadian Hippocrates-Galenus barangkali aktivis-aktivis Persis dominan dengan empedu hitam sehingga mempunyai tipe kepribadian melankolis. Namun, terlepas dari desas-desus itu saya sendiri selalu memperhatikan beberapa karakteristik yang ada pada teman-teman seperjuangan saya yang juga saya temukan pada diri saya sendiri.
Karakteristik ini saya analogikan dengan cicak yang melekat di dinding dan saya paparkan beberapa kesalahan mujahid cicak. Saya mengatakannya sebagai mujahid,  bukan aktivis, sesuai dengan apa yang disampaiakan dari acara Silakpi mengenai rentang disparitas antara aktivis dan mujahid.
Cicak-cicak di dinding
Diam diam  merayap

Totalitas dan Pengoptimalan Diri untuk Menjadi Keluarga Mahasiswa yang Berkualitas



 (Tulisan ini dikirimkan saat mendaftarkan diri menjadi pengurus BEM Kema Kabinet Sigap)
 
Sarah Nurul Khotimah 220110100134
Fakultas Keperawatan 2010

Menjadi pengurus BEM?
Bagi sebagian mahasiswa apatis mungkin merasa heran melihat sekumpulan orang berbondong-bondong berkontribusi untuk BEM. Berkumpul untuk membahas proker-proker yang harus disepakati bersama. Menjalankan kegiatan yang tidak sedikit menguras keringat.

Orientasi Aksi Dodol


Kenangan Kabah @Riung Bandung



Tanggal 11 Februari menuju 12 Februari 2011…
“Apa Persis menganggap kamu kader Persis?” Teriaknya penuh penekanan dengan mimik optimis bahwa kali ini saya akan menyerah untuk menjawab.
Kok rasanya saya lagi ditanya, “apa orangtua kamu menganggap kamu anak mereka?Nyeredet hate kitu. Jangan-jangan orangtua saya mengasuh saya hanya karena kagok dikasih saya sebagai anak mereka. Malam sebelumnya saya memang memakai kalimat, ‘saya merasa tersesat di Persis, karena kecintaan saya pada ilmu matematika dan IPA dileburkan oleh Persis dengan memberi tinta merah di nilai Fisika’, tapi saya melanjutkannya dengan, ‘saya tersesat di tempat yang tepat.’

Paradigma Sastra Keperawatan


            “Materi kuliah apa nih?”
“Fundamental of Nursing.”
“Oh,” Aku duduk di pojok belakang. Aku lebih suka tempat duduk yang strategis di  belakang untuk menulis sebuah karya fiksi.
          Ya, aku adalah Si Sastra Gila. Pecinta sastra yang ditodong keluarga untuk masuk Fakultas Keperawatan.
          Bla… Bla… Bla…
          Seperti biasa lecture kali ini penuh dengan teori, karena kami baru semester satu maka yang dipelajari hanyalah pendekatan terhadap ilmu keperawatan. Baguslah, ada waktu agar pikiranku tetap menerawang jauh dari dunia keperawatan.

Ceritanya Kang Ujrot dan Neng Bahrul



Let’s read our story...
Kita dipertemukan di Cicalengka, kita sepupuan. Ibuku dan ibunya ditakdirkan seibu & seayah.. Ibu dia lebih tua dan ibu saya lebih cantik, dan saya lebih cantik dari mereka berdua, tapi mereka berdua lebih mulia dari saya.
Dia adalah Kang Ujrot, lengkapnya Ujrot Tahu Gejrot! Panggilan khusus dari saya ‘Apaji'. Hingga catatan ini saya catat saya masih memanggilnya begitu. Dan saya, ya saya. Neng Bahrul kalo dalam catatan ini. Banyak panggilan bertebaran dari nama Nurul yang saya sandang tanpa pangan dan papan ini, mulai dari Yuyuy, Kuyuy, Unun, Nunul, Jenul, dan panggilan manyun lainnya. Tapi si Ujrot ini menyebut saya Bahrul.

Believeable itu Seleksi Alam


Ada satu lentera bagi wisata mimpi saya, yaitu, “Kritis Berpikir, Gesit Menulis, dan Aktif Berbicara”, dan saya kerucutkan menjadi “Kritis, Kreatif, dan Komunikatif”. Jika ketiga hal itu berdisfungsi, berarti ada kelainan dalam saraf motivasi dan spirit saya. Dan imbasnya adalah saya selalu terjebak menjadi sosok yang dipercaya, seperti menjadi ketua kelompok kecil saat mabim dan mentoring, sampai kepercayaan lebih besar yang tidak diduga, atau dengan kata lain ‘menjadi nomor satu’ tanpa sadar. Ini ambisi saya? Bukan! Saya ingin melakukan apa yang saya cintai, saya tidak segan-segan menolak menjadi ketua jika saya memang tidak merasa ada feel, seperti yang saya lakukan saat pengkaderan di Riung Bandung. Ada kisah lain mengenai sentilan ini.

Not Hope but Full Believe

Cinta Kasih Kelapangan Hati



Sajak Reofilia



Telaga Kausar Indonesia


Sebilah Pisau Tumpul


Lima Hari Ga Ngeblog

Ada apa dengan lima hari ga ngeblog?
Sebelumnya bahkan saya sudah berbulan-bulan ga ngeblog, mau apa? nulis apa? dibaca siapa? Saya paling tidak suka jika harus ngopas kalau nulis, toh tulisan yang saya kopas adalah tulisan manusia. Kalau dia bisa nulis kenapa kita tidak? Toh jadinya saya antipati dengan orang yang kalau ngeblog kerjaannya kopas dari artikel lain. Hah, kalau tidak mampu membuat artikel ya belajar dulu lah yang bener.

Paradoksnya Hobi Sama Profesi

Pagi ini saya belajar Trauma Thoraks sama Pak Cecep. Serem, kita disuguhi video peperangan di Iran, intinya di video itu diperlihatkan pertolongan emergensi terhadap korban perang (medisnya tentang apa aku kaga tau). Tapi yang bikin lucu sampe aku tertarik bikin tulisan ini tuh bukan itu tapi celetukan Pak Cecep mengenai 'polisi' soalnya beliau menambahkan, "Tapi bukan polisi yang joged India itu."

Wajah Pucat Hari Ini (5 April 2011)

Ah, mau menuh2in blog deh kayanya. On d'spot nulis apa yang mau ditulis, bukan karena saya seorang penulis atau pemilik laptop yang bisa internetan (ah ga penting dah). Oh iya, ngomong2 tentang penulis kemarin ketika Radep HRD dan Ukhuwah saya dipanggil penulis sama Kabid Ukhuwah (cikiciw), dia bilang gini, "Kalau tidak salah anak HRD ada yang jadi penulis ya?". Sontak pada ngeliatin aku kan (emang aku buron?), well okelah imej saya di kampus sudah dicap sebagai seorang penulis. So, ga wajar deh kalo ni blog kosong2 aja.