Search This Blog

Esai Perbandingan Untuk Mentoring FLP Bandung

 Esai Perbandingan

Mengkaji Kepenulisan Memoaris, Novelis, Cerpenis, dan Penyair
dalam Sastra Indonesia Modern
: Sarah El Zohrah
Tulisan ini diikutkan saat mendaftarkan diri pada Kelas Menulis Esai FLP Bandung

Ketika mengikuti acara Bilqis “Jilbabku Cantikku” (11/12) yang diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi Unpad di PSBJ, topik yang menjadi pembahasan tentu saja bukan masalah kepenulisan ataupun penerbitan sebuah buku. Namun ternyata setiap pembicara yang diminta menguraikan pembahasan mengenai jilbab dan kecantikan itu kecolongan untuk membahas mengenai dunia kepenulisan, mulai dari mbak Oki Setiana Dewi yang mempromosikan buku pertamanya yang akan terbit tahun 2011, mbak Melly Rahardjo yang menceritakan bagaimana menjadi seorang penulis skenario, Ust. Aam Amirudin yang memang mengulas mengenai buku Fikih Kecantikan dan kemudian ditanya oleh seorang audiens, “Sejak kapan Ustad senang menulis dan kiat apa saja yang dilakukan untuk menulis sebuah buku?”, begitu pula pembicara terakhir yang memang seorang penulis yaitu mbak Izzatul Jannah.


Kepenulisan Memoaris
Begitulah, dewasa ini penulis dan penerbit buku semakin menjamur di Indonesia, hanya saja tidak semua dapat dikatakan sebagai penggiat literasi. Selain Oki Setiana Dewi, ada pula artis seperti Hepi Salma bahkan Piyu ‘Padi’ yang juga mencoba mengasah potensi di dunia kepenulisan. Mengenai hal tersebut Suryopratomo-Pemred Kompas- memberi contoh, China. Mengapa China maju sebagai negara. Salah satu faktor adalah penduduknya setia pada profesinya. Sementara di Indonesia, guru besar beralih profesi sebagai birokrat. Politisi menjadi pengusaha. Karena itu tak ada orang yang betul-betul hebat dalam bidangnya.
Buku yang berisi perjalanan hidup, yang kemudian disebut memoar tersebut memang diminati banyak pembaca, apalagi jika penulis adalah tokoh idola yang dikenal masyarakat luas. Sebagai contoh adalah buku tentang Chrisye yang berjudul “The Last Words of Chrisye.” Buku ini berisi curahan hati, kebencian, rasa sedih sang maestro tersebut. Beberapa waktu sebelumnya, buku pengusaha Probosutedjo, “Saya dan Mas Harto” juga diluncurkan oleh penulis yang sama, yaitu Alberthiene Endah yang mendapat julukan Penulis Memoar Paling Moncer. Berbeda dengan Alberthiene Endah, nama Pidi Baiq pun dikenal sebagai penulis lokal yang bercerita mengenai kesehariannya. Karya Pidi Baiq begitu diminati oleh banyak kalangan karena cara kepenulisannya yang tidak biasa dan ringan untuk dibaca.
Kepenulisan Novelis
Apa yang mereka tulis memang hanya sekedar memoar yang diharapkan menjadi inspirasi bagi pembaca. Hal ini mengindikasikan bahwa menulis sebuah memoar dapat dilakukan siapa saja karena yang menjadi titik fokusnya adalah kisah perjalanan hidup, berbeda dengan novel yang menuntut penulis untuk mengeksplor imajinasinya.
Salah satu novelis Indonesia yang pandai bermain kata adalah Dewi Lestari Simangunsong atau lebih dikenal dengan Dee, novel Supernova Satu; Ksatria, Puteri, dan Bintang jatuh, Supernova Dua; Akar, dan Supernova Tiga; Petir. Dengan gaya linguistik yang cerdas dan santun. Riset yang dilakukan tentang tema-tema fisika dan metafisika lantas dituangkan pelahan, diramu dengan bahasa yang sederhana namun puitis, akhirnya tercampur sempurna di dalam novelnya. Dee membungkus tema cinta yang tulus, cinta sesama jenis, cinta tak tergapai, juga perselingkuhan, menjadi tidak terasa biasa-biasa, tapi juga tidak bombastis luar biasa.
Selain itu keberadaan novel dewasa ini mampu memasuki level yang lebih tinggi yaitu diadopsi menjadi sebuah film, kita sebut saja novel Dealova dan Jomblo, juga novel islami Kang Abik; Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan Dalam Mihrab Cinta, juga tetralogi Laskar Pelangi. Sementara novel serial yang dulu sempat Berjaya di layar TV, kini mulai surut. Di Indonesia para penulis novel serial sedikit; mulai dari Arswendo Atmowiloto (Senopati Pamungkas, Kiki, Imung. Keluarga Cemara), Teguh Esha (Ali Topan), Bung SMAS (Kembang Manggis), Hilman (Lupus), Fahri Asiza (Syakila), dan Zara Zettira ZR (Catatan Si Boy). Adakah keinginan menjadi novelis serial lainnya yang berkualitas?

Kepenulisan Cerpenis

Seno Gumira Ajidarma, sastrawan yang dikenal sejak tahun 70-an membedah melalui gaya penulisan cerpennya, terutama dengan diterbitkannya kumpulan Cerpen "Manusia Kamar". Seno Gumira Ajidarma sendiri menunjukan bahwa cerpen, meskipun karya sastra yang bisa dibuat siapa saja dengan sederhana namun tetap harus mengedepankan kualitas. Dilihat dari Cerpen Pelajaran Mengarang terpilih menjadi Cerpen Terbaik Kompas 1993, SEA Write Award (1997), Cerpen Saksi Mata Mendapat Dinny O’Hearn Prize for Literary (1997), Cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik terpilih menjadi cerpen terbaik Kompas 2007.
Selain nama tersebut, ada pula nama Benny Arnas. Dalam forum sindikat penulis dikatakan bahwa setiap penulis, alangkah baiknya, menulis apa yang ia tahu. Bukan hanya untuk menghindari anakronisme dan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu, melainkan juga untuk memudahkan si penulis itu sendiri. Dan Benny Arnas telah melakukan hal itu.
Cerpen-cerpen Benny Arnas menunjukan bahwa beliau sangat menguasai apa yang ia tulis dengan tidak mengesampingkan diksi. Meskipun sempat mengerutkan kening, tapi setidaknya pembaca masih bisa menangkap inti dari setiap cerita. Sebagai contoh, Benny Arnas mengganti kata “warna” menjadi “kelir”, “air sepat(?)” menjadi “air kelat”, “usai” menjadi “tunai”, “tetangga” menjadi “jiran”, “setelah” menjadi “bakda”, dan lain sebagainya. Bukan hanya menjadikan kata-kata itu terasa unik, melainkan juga terasa bertenaga sebab masih jarang dipakai orang banyak.

Kepenulisan Penyair
Pada sisi lainnya, ada pula penulis yang lebih fokus terhadap puisi yang mengutamakan permainan kata, diksi, dan metaphor. Setelah dunia kepenulisan sastra Indonesia mengalami metamorfosa yang sangat liar, banyak kalangan penyair yang menabrak tata aturan dalam menulis puisi. Pemerkosaan kata yang sering dilakukan oleh para penyair dikatakan oleh Remy Novaris DM sebagai sebuah perubahan yang berlanjut, hal tersebut semacam sebuah energi yang mendesak para penyair untuk melakukan sebuah pembaruan yang “radikal”. Namun tidak dapat disangkal bahwa penyimpangan-penyimpangan tersebut justru menjadi kekuatan bagi para penyair, berkaca pada Chairil Anwar yang dianggap merombak diksi-diksi yang konon begitu sakral, dan dipercayai Pujangga Baru sebagai aturan yang tak bisa diubah, namun dengan gayanya sendiri Chairil tak lagi bisa menerima itu semua. Pembedahan mulai dilakukan, dengan melakukan sebuah pelafalan baru. Mencoret kata-kata yang tak perlu. Begitu pula dengan Sutardji, penyair “meong” yang menulis sebuah “Kredo Puisi” melafalkan sajak-sajak mantranya yang abai dari makna sehingga pembacanya menilai puisi-puisi Sutardji masih bermakna, walau kadang terasa janggal.
Dengan kata lain adalah seperti yang dikatakan Naning Pranoto dalam Antologi Lip Ice-Selsun Award, “Berani Tampil Beda! Tapi tidak asal beda, beda dalam tingkat kepekaan, menggali ide, sudut pandang, menangkap ruh, mengolahnya dengan sungguh sehingga setiap karya punya ruh, juga bertanggungjawab dengan karya.”

Sastra Indonesia Modern

Gaya kepenulisan yang khas dari novelis, cerpenis, dan penyair tersebut mengindikasikan keseriusan mereka dalam bersastra sehingga profesionalisme tersebut dibentuk buka hanya sekedar nilai materil. Sebagaimana yang ditulis Kang Wildan Nugraha, “Sebuah karya sastra dapat dianggap sebagai respons pengarangnya atas realitas yang terjadi.” Itu berarti sastra bukanlah Jadi, pilih target mana: Menulis apa yang ingin kita tulis atau menulis apa yang ingin mereka baca? Kualitas atau kuantitas? Menulis banyak buku berkualitas standar atau satu buku yang inspiring? Penghasilan bertambah atau rejeki yang kian bermanfaat? Menambah jumlah teman atau mempererat ukhuwah?
Peta perjalanan sastra di Indonesia juga dipengaruhi oleh peningkatan teknologi informasi di dunia maya. Sehingga siapapun itu, entah penulis ataupun bukan mampu menulis karyanya secara bebas tanpa harus mengirimkannya kepada penerbit ataupun redaksi majalah dan koran. Bahkan puisi Ariel Peterpan yang ditulis di dalam penjara pun menjadi sorotan di dunia maya.
Penyair Iwan Soekrie pernah menaksir ada ribuan penyair berbahasa Indonesia berkarya di dunia maya dan separuh diantaranya bergumul di facebook, salah satunya adalah Antologi Puisi “Merah yang Meremah” yang ditulis oleh empat penyair facebook. Maka ini jelas hal yang pantas untuk meyakinkan kita bahwa Indonesia sebuah negeri produsen syair dan penyair terbesar di dunia memang bukan mustahil, dengan semaraknya situs-situs jejaring sosial sejenis, akan terus lahir sebuah generasi penyair baru Indonesia dengan karakteristik yang baru pula. Namun, jangan sampai waktu untuk surfing melebihi waktu untuk membaca buku. Ibarat naik motor, menulis menjadi motor, membaca buku menjadi bahan bakar, dan internet menjadi katalog untuk tahu segala informasi tentang motor tersebut. Keasyikan membaca katalog, tanpa sadar isi tanki sudah berkurang, atau bahkan kosong, hingga kemudian motor tidak berfungsi lagi bukankah itu berarti nonsens.

Pondok Kaca II, 16 Desember 2010

*Sarah El Zohrah, lahir di Tasikmalaya, 17 April 1992.
Berdomisili di Garut, dan sekarang adalah mahasiswi Fakultas Keperawatan Unpad.

0 komentar:



Post a Comment

Jika tidak memiliki akun di google, wordpress, dan yang lainnya, bisa menggunakan anonymous.